Kakek, Emak dan Tentara. Penguasa Jalanan.
Aha.. ketemu lagi dengan blog keren ini, kangen rasanya. Sebelumnya, minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Maaf kalo agak telat.
Pagi ini seperti biasa aku berangkat ke kantor dengan semangat membara. Menyisir jalanan dengan riang, menikmati pemandangan dan sesekali misuh liat pengguna jalan ugal-ugalan.
Malang - Kepanjen, rute perjalanan yang tiap hari ku tempuh ini memang penuh dengan godaan dan cobaan. Ramai arus kendaraan serasi dipadu dengan semrawutnya lalu lintas dan cuaca panas. Memang kurang cocok dengan kulitku yang putih bersih halus dan bersinar. Asal rajin mandi susu, kulitku tetap berseri.
Jalanan ketika itu sepi, ku pacu motor beriringan dengan yang lain dengan kecepatan sedang.
Tiba-tiba… (deg-deg an dulu dong)
Di depan sana …. (tambah deg-deg an)
Ada motor…. (tuambah dueg dueg an)
Dua orang berboncengan, seorang kakek dan permaisurinya yang keriput. Menyeberang jalan tanpa arah tujuan serta dedikasi yang jelas. Sepertinya enggan untuk menoleh sebelum mengutarakan hajatnya nyebrang.
Aku dan seorang biker di depanku harus menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban kami oleng kanan kiri, pantat pun ikut bergoyang. Asoy.. Bersyukur masih bisa mengendalikan motorku, yang kebetulan ban aku ganti jadi gambot. Jadi lebih stabil. Ku toleh ke belakang, sang biker lain jumpalitan di jalan. Sang kakek terus melenggang santai..
Perjalananku (terpaksa) terus berlanjut demi mengejar sesuap nasi dan segepok uang. Hidup Kakek!!! Kakek Masih Hidup Cuu!!!
Sore hari kembali ku sisir jalanan, kembali ku menemui aral dan rintangan. Emak-emak, seorang makhluk yang paling aku takuti di jalanan. Kebiasaan naik motor di tengah jalan, pelan, bawa belanjaan, mau arisan, ngupilan.
Aku berusaha menyalip itu Sang Emak, bel tanda bintang film mau nyalip udah ku bunyikan. Entah kenapa itu emak tiba-tiba malah tambah ke tengah. Maka bersenggolanlah spion kami. Walaupun oleng tapi kami tak sampai bercinta di aspal.
Di lampu merah tiba-tiba seorang tentara menghampiriku. Rupanya dia melihat kejadian tadi. Karena tak pakai helm, sangat jelas tampang sok sangarnya mencoba bijaksana dengan tangannya menampar helmku. Dan mulut beraroma kaki komandannya nyocot “Bisa naek motor ndak?”.
Dalam hati ku berucap “Lha kamu tau aturan naek motor ndak, ga pake helm aja sok bijaksana, dasar tentara guoblok! Aduh. Maap bang keceplosan. Ampun Bang. Plis Bang.. Ya Bangg..”.
Ahh biarlah, namanya juga tentara (catatan penting dan jangan sampai hilang: tidak semua tentara).
Hajar dulu, tanya belakangan. Ama rakyat biasa suka main hajar, kalo ama komandan nyembah-nyembah.
Berhati-hatilah di jalanan. Taatilah peraturan. Hindarilah kekerasan. Jagalah ketampanan.
Sudah hampir setahun ini aku gabung ama salah satu komunitas biker di Kota Malang, dan sejak itu pula tumbuh jiwa pengelana pada diriku.