Kutukan Sang Raja Puyuh
Eng ing eng..
Setelah 29 hari 5 jam 42 menit lebih 23,4detik aku tak menggerayangi blog penuh maksiat cinta ini, rasa rinduku bagaikan pengembara kebelet merindukan toilet umum. Oh toilet..
Ngeblog bagiku udah seperti menulis cerita trus diposting di sebuah halaman website. Ya iyalah.. Nenek-nenek koprol juga tau kalo itu namanya ngeblog.
Sebulan kemarin banyak banget kejadian dihidupku, mulai dari yang menyakitkan sampai menyengsarakan jiwa, raga, bangsa, negara dan dompet.
Akhir bulan Mei, menjelang hati berbunga-bunga bersiap mendapatkan kucuran gaji segar, sesegar susu. Entah susu siapa. Kambing atau sapi atau “ayam”, sama segarnya. Seketika kesegaran sirna mengingat bulan ini ada UAS (Ujian Akhir Semester), daku belum bayar sisa uang kuliah. Meranalah aku.
Awal bulan Juni, aku terserang penyakit aneh tapi sakit. Kegantengan yang merajalela. Oh bukan, tp sakit perut. Penyakit standar memang. Sang preman berbudi luhur dan bijaksana ini seketika lumpuh tak berdaya gara-gara salah makan, yap terakhir ku ingat makan lalapan burung puyuh dengan tak manusiawi kumutilasi habis-habisan. Apa mungkin aku makan Raja Puyuh kali ya, apa Presiden Puyuh. Terjadilah Kutukan Sang Lalapan Puyuh Murka.
Berhari-hari kurasakan perutku dikocok, digoyang, diaduk-aduk Monster Puyuh. Bubur ayam adalah makanan tereksklusif yang kusantap setelah itu.
Kondisi badan semakin tak sanggup berkompromi, disaat padat jadwal show. Oke oke bukan show, tapi tugas kerja, kuliah dan nyuci baju. Badanku demam. Oh What The Flu!!!
Sabar adalah kuncinya. Tabah adalah gemboknya. Nangis berguling-guling adalah kunci serepnya.
Setelah menikmati penyakit-penyakit standar anak kos itu kini tubuhku membaik. Maafkan aku pak burung puyuh. Kini kau tlah tiada. Semoga kau tenang di perutku.
![[ loro weteng ]](http://www.keminisme.com/gambar/sakitperut.jpg)