Kemin.is.Me dot Kom

Sebuah ideologi maya untuk sebuah kebebasan berekspresi !

Kutukan Sang Raja Puyuh

June24

[Monster Manuk]Eng ing eng..
Setelah 29 hari 5 jam 42 menit lebih 23,4detik aku tak menggerayangi blog penuh maksiat cinta ini, rasa rinduku bagaikan pengembara kebelet merindukan toilet umum. Oh toilet..
Ngeblog bagiku udah seperti menulis cerita trus diposting di sebuah halaman website. Ya iyalah.. Nenek-nenek koprol juga tau kalo itu namanya ngeblog.

Sebulan kemarin banyak banget kejadian dihidupku, mulai dari yang menyakitkan sampai menyengsarakan jiwa, raga, bangsa, negara dan dompet.

Akhir bulan Mei, menjelang hati berbunga-bunga bersiap mendapatkan kucuran gaji segar, sesegar susu. Entah susu siapa. Kambing atau sapi atau “ayam”, sama segarnya. Seketika kesegaran sirna mengingat bulan ini ada UAS (Ujian Akhir Semester), daku belum bayar sisa uang kuliah. Meranalah aku.

Awal bulan Juni, aku terserang penyakit aneh tapi sakit. Kegantengan yang merajalela. Oh bukan, tp sakit perut. Penyakit standar memang. Sang preman berbudi luhur dan bijaksana ini seketika lumpuh tak berdaya gara-gara salah makan, yap terakhir ku ingat makan lalapan burung puyuh dengan tak manusiawi kumutilasi habis-habisan. Apa mungkin aku makan Raja Puyuh kali ya, apa Presiden Puyuh. Terjadilah Kutukan Sang Lalapan Puyuh Murka.
Berhari-hari kurasakan perutku dikocok, digoyang, diaduk-aduk Monster Puyuh. Bubur ayam adalah makanan tereksklusif yang kusantap setelah itu.

Kondisi badan semakin tak sanggup berkompromi, disaat padat jadwal show. Oke oke bukan show, tapi tugas kerja, kuliah dan nyuci baju. Badanku demam. Oh What The Flu!!!

Sabar adalah kuncinya. Tabah adalah gemboknya. Nangis berguling-guling adalah kunci serepnya.

Setelah menikmati penyakit-penyakit standar anak kos itu kini tubuhku membaik. Maafkan aku pak burung puyuh. Kini kau tlah tiada. Semoga kau tenang di perutku.

posted under Pake Perut | 9 Comments »

Insiden Penganiayaan Peyut

May2

[ loro weteng ]Hari ini UTS berakhir dengan menyisakan luka mendalam di otakku. Untuk merayakan kebebasan ini aku ngajak temen makan-makan di warung langganan di Jl. Teluk Grajakan. Nasi lalapan belut jadi andalan.

Jarum di arloji nonjok angka 8, ketika perut mulai menggelitik, aksi penjarahan warung pun dimulai.

Tak selang lama, segunung nasi belut ditumpahkan ke dalam piring. Sambal lalapan di warung ini terkenal mak nyus, apalagi prasmanan. Dengan alasan itulah, gayung demi gayung sambal kusiram ke belut-belut mati di piringku. Serasa jadi korban pengungsian telat bantuan pangan, nasi kulahap dengan kepalan-kepalan tangan raksasa. Ludes seketika! Tak tersisa!

Begitu pulang perut mulai bergemuruh, terdengar teriakan-teriakan anti pembantaian. Bukan karena seminggu belum boker, tapi sepertinya sambal nikmat itu membawa luka. Cik cik bum bum alala bum bum.. Paginya, kloset adalah tujuan utama aku terbangun dari tidur. Dua kali! Yaps, dua kali gw balik ke kloset. Seharian perut rasanya kaya digiling. Mules tapi ga bisa boker. Ah, aku lupa penutup lubangnya.. (hehe)

Sore hari, setelah demo cacing perut diwarnai aksi anarkis, 2 bungkus Pil Sakit Perut Cap Lang diterjunkan langsung mengendalikan situasi. Tapi, sepertinya kewalahan menghadapi. Berikutnya, 2 batang mercon di kerahkan ke perutku. (hehe, emangnya Oggy?)

Temenku bilang aku kena radang lambung. Bagai petir di pagi buta, Blarrrr! Prett!…
Alamak! Jangan radang lambung dong, pliss.. Mending radang dompet aja deh.
Hari ini, bangun tidur si perut udah mulai jinak. Moga-moga aja nggak kumat lagi.


*Trivia : Setiap gw pulang dari itu warung, pasti perut bawaannya sakit mulu.

posted under Pake Perut | 4 Comments »