Ramadhan Untuk Seorang Hamba
Kutelusuri jalanan senja dengan langkah gontai, seakan kakiku terseret angin berdebu dan dihempaskan kemanapun. Remuk redam tubuhku setelah bekerja bak mesin pabrik kemarin.
Sore ini, akhir dari sebuah hari yang begitu melelahkan, aku ingat malam ini adalah permulaan bulan suci. Ramadhan tiba. Entah kenapa badanku rasanya berat.
Maghrib tiba, sujudku pada Rabb-ku seakan terusik ketidakberdayaanku, kucoba baringkan badanku di ranjang kusut disamping aku bersandar dengan gusar.
Perlahan mataku dikerubuti rasa kantuk tak tertahankan. Tidur.
Tergopoh-gopoh Amin, teman sekontrakan, membangunkan aku dari nikmatnya alam bawah sadar. MasyaAllah.. Aku hampir terlambat trawih.
Dengan badan serasa melayang aku tepis dingin malam menghampiri rumah Allah. Subhanallah.. Ramai.
Isya dan trawih pun usai. Dalam doaku memohon..
Ya rabb, berilah aku hidayah dan rahmat-Mu di bulan sucimu ini.
Aku ingin senantiasa bertasbih padamu Ya rabb-ku
Apakah tahun depan aku masih Kau beri kesempatan menikmatinya?
Mendengar